Sebut saja ada calon mahasiswa bernama Budi dan temannya Andi. Budi ingin masuk Teknik Elektro dan Andi ingin masuk Teknik Informatika. Untuk itu Budi dan Andi ikut lembaga bimbingan belajar di kotanya untuk persiapan menghadapi SPMB. Setelah menjalani beberapa try out, mereka sepakat untuk berdiskusi dengan ahli bimbingan konseling di lembaga tersebut. Berikut percakapannya:
Konseling: “Ada yang bisa saya bantu?”
Andi: “Iya pak, saya mau tanya apakah try out saya cukup untuk masuk ke jurusan Teknik Informatika di ITX”
Konseling: “Wah, hasil try out-mu cuma 50%, susah ini untuk masuk teknik informatika ITX, gimana kalo masuk jurusan yang lebih rendah di ITX seperti Geodesi?”
Andi: “Gitu ya pak…” Akhirnya Andi memilih masuk Geodesi ITX.
Budi: “Kalau saya pak, saya pengen masuk Teknik Elektro ITZ tapi try out saya cuma 40%. Gimana ya pak, pengennya saya di Elektro ITZ”
Konseling: “Oh gt…ga bisa ini masuk Teknik Elektro, ga cocok kamu. Tinggi banget lho! Ini lho ada yang sesuai dengan hasil try out kamu, kayaknya pasti masuk. Udah ambil ini aja”, ujarnya sambil melihat jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri XYZ.
Budi: “Hm….”. Akhirnya atas saran Konseling, Budi memilih masuk Sastra Inggris.
Satu tahun kemudian Lembaga Bimbingan Belajar itu mengumumkan bahwa 100% siswanya lulus SPMB dan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri.
Yang pasti, soal2 prediksi Lembaga Bimbingan Belajar belum tentu benar, dan tidak semua mahasiswa bisa menunjukkan prestasi maksimal jika jurusannya bukan dari kesukaannya sendiri.
Ada beberapa pertanyaan yang dilupakan oleh Bimbingan Konseling: “Anda sukanya apa? Kenapa memilih jurusan itu?, Kalau tidak masuk jurusan pertama, mau masuk mana?, Kalau universitas swasta sukanya dimana?”.
Namun kondisi diatas susah terlaksana, karena KPI (Key Performance Indicator) dari Lembaga Bimbingan Belajar adalah mengantarkan siswanya masuk SPMB.
Ada lagi yang lebih parah dan itu terjadi di SMU favorit di Surabaya. Kejadiannya menimpa teman saya sendiri. Ceritanya gini, ada dua siswi yang sangat pintar dan merajai rangking atas di SMU tersebut. Sebut saja namanya Nita dan Anisa. Keduanya ingin masuk ke Fakultas Kedokteran di UNAIR. Seorang guru BK menanyakan kepada Nita dan Anisa mau ambil jurusan apa mereka saat kuliah:
Guru BK: “Nita, Anisa…wah kalian pada mau ambil jurusan apa nih waktu kuliah? Kalian calon pengharum nama SMU ini lho”
Nita: “Saya dan Anisa mau ambil Fakultas Kedokteran (FK) Unair, pak. Doakan ya…”
Anisa: “Iya pak. Doain ya….”
Guru BK: “Lho lho lho…gimana sih kalian ini? FK Unair itu susah lho. Kok bisa temen saling menghalangi gini. Udah gini aja, Nita kamu masuk FK Unair, Anisa kamu masuk Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unair. Udah kalo kaya gini kan ga ada sikut2an. Sama aja kok.”
Atas saran Guru BK-nya, Anisa akhirnya masuk FKG Unair dan Nita akhirnya masuk FK Unair.
Kejadian ini NYATA. Ternyata saat pengumuman ada belasan siswa/siswi SMU negeri tersebut yang berhasil masuk FK Unair dan rangkingnya dibawah Anisa yang masuk FKG atas saran Guru BK-nya.Lha Pak Guru BK, emangnya kursi FK Unair cuma satu direbutin ama Anisa dan Nita doang?
Tidak perlu saya lanjutkan lagi tulisan ini, anda pasti sudah bisa membaca arah tulisan ini. Ya, begitu banyak calon mahasiswa salah jurusan dan terjebak dengan iming2 lulus SPMB, dan sekarang susah cari kerja karena tidak sesuai dengan minat mereka. Anak SMU itu masih labil dan belum dewasa. Anak SMU itu masih belum bisa menentukan sendiri arah mereka.
Oleh karena itu sadarlah wahai Guru dan Bimbingan Konseling, nasib bangsa ini ada di anak2 SMU tersebut. Jangan matikan inspirasinya. Tidak semua universitas swasta kalah dengan negeri. Jangan asal universitas negeri jurusan apapun juga bisa. Dukung keinginan mereka, salurkan keinginan mereka dengan benar!
*Tulisan ini hanya sebagai bukti adanya kesalahan pada sistem bimbingan konseling di Indonesia*







